| Gambar 430 OPM (Optical Power Meter) |
1. Konsep Dasar OPM (Optical Power Meter)
Pengertian
Optical
Power Meter (OPM) adalah alat ukur yang digunakan untuk
mengukur daya sinyal cahaya (optical power) pada sistem komunikasi serat
optik.
OPM
bekerja dengan cara:
·
Menerima sinyal cahaya dari ujung fiber
·
Mengubah energi cahaya menjadi sinyal
listrik melalui photodetector
· Menampilkan hasil dalam satuan dBm atau mW
Prinsip
Kerja OPM
1.
Sumber cahaya (OLS – Optical Light
Source) mengirimkan sinyal ke fiber
2.
Cahaya merambat melalui serat optik
3.
OPM menangkap cahaya di ujung fiber
4.
Sensor mengonversi cahaya menjadi arus
listrik
5.
Nilai daya ditampilkan di layar
Biasanya
digunakan berpasangan dengan:
- OLS
(Optical Light Source) → untuk mengukur redaman (loss)
2. Fungsi OPM
OPM
memiliki beberapa fungsi utama dalam instalasi dan maintenance jaringan fiber
optik:
2.1 Mengukur
Daya Optik (Optical Power)
Mengetahui
besar daya cahaya yang diterima pada ujung fiber.
Contoh:
·
Hasil pengukuran: -18 dBm
2.2. Mengukur Loss (Redaman)
Digunakan
bersama OLS untuk menghitung besar redaman kabel.
Rumus:
Loss (dB) = P
kirim
– P terima
Contoh:
·
Daya kirim: -5 dBm
·
Daya terima: -15 dBm
·
Loss = 10 dB
2.
3. Troubleshooting Jaringan Fiber
Untuk
mendeteksi:
·
Sambungan buruk
·
Konektor kotor
·
Fiber putus
· Redaman berlebih
2.4. Pengujian Instalasi Baru
Memastikan
jaringan memenuhi standar sebelum diserahkan ke pelanggan.
3.
Satuan Pengukuran OPM
3.1 dBm
Satuan
logaritmik terhadap 1 mW.
·
0 dBm = 1 mW
·
Nilai negatif → daya kecil
·
Nilai positif → daya besar
3.2 mW (milliwatt)
Satuan
daya absolut.
Hubungan:
dBm = 10 Log10(P(mW))
4. Panjang Gelombang (Wavelength) Pengukuran
OPM
harus disesuaikan dengan panjang gelombang sistem.
Umumnya:
·
850 nm → Multimode
·
1310 nm → Singlemode
·
1550 nm → Singlemode jarak jauh
·
1490 nm → FTTH downstream
Jika
salah memilih wavelength, hasil pengukuran tidak akurat.
5.
Parameter
Keberhasilan Hasil Pengukuran
Berikut
indikator apakah hasil pengukuran dianggap baik atau tidak:
5.1. Nilai Redaman
(Loss) Sesuai Standar
Standar
umum:
|
Komponen |
|
Standar
Loss |
|
Splicing |
|
≤
0.1 – 0.3 dB |
|
Konektor |
|
≤
0.5 dB |
|
Link
FO total |
|
≤
0.35 dB/km (SM 1310 nm) |
Jika
hasil melebihi standar →
instalasi bermasalah.
5.2 Power Receive Sesuai
Spesifikasi Perangkat
Contoh
standar GPON:
|
Parameter |
Nilai Normal |
|
RX ONT |
-8 s/d -28 dBm |
Jika:
·
Lebih kecil dari -28 dBm → sinyal lemah
·
Lebih besar dari -8 dBm → sinyal terlalu kuat
5.3 Stabilitas
Pembacaan
Hasil tidak berubah-ubah drastis.
Jika angka naik turun → kemungkinan:
·
Konektor longgar
·
Fiber kotor
·
Sumber cahaya tidak stabil
5.4 Perbandingan
dengan Perhitungan Teoritis
Loss
hasil ukur harus mendekati hasil perhitungan:
Total Loss = (Panjang kabel × redaman/km)
+ Loss Konektor + Loss Splice
Jika
selisih besar →
ada masalah di jalur.
6. Faktor yang Mempengaruhi Akurasi OPM
6.1 Kebersihan
konektor
6.2 Pemilihan
wavelength
6.3 Kalibrasi
alat
6.4 Jenis
fiber (SM/MM)
6.5 Kualitas
splicing
6.6 Suhu
lingkungan
Misal:
·
Panjang kabel: 10 km
·
Redaman standar: 0.35 dB/km
·
2 konektor (0.5 dB)
·
4 splice (0.1 dB)
Perhitungan:
·
Kabel: 10 × 0.35 = 3.5 dB
·
Konektor: 1 dB
·
Splice: 0.4 dB
·
Total = 4.9 dB
Jika
hasil OPM menunjukkan 5.1 dB →
masih normal
Jika
menunjukkan 9 dB →
ada masalah
8.1 OPM
adalah alat untuk mengukur daya optik pada jaringan fiber
8.2 Digunakan
untuk pengukuran power dan loss
8.3 Hasil
dinyatakan dalam dBm atau mW
8.4 Keberhasilan
pengukuran ditentukan oleh:
·
Nilai loss sesuai standar
·
Power receive sesuai spesifikasi
·
Stabilitas hasil ukur
·
Kesesuaian dengan perhitungan teoritis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.