Senin, 14 Maret 2016

Khoirul Anwar, 4G dan Tantangan Kompetensi Aktivis KAMMI


Oleh: Bambang Prayitno dan Eka Suwarna
(Anggota dan Pengurus Keluarga Alumni KAMMI)

HAMPIR setahun ini, masyarakat Indonesia dihebohkan oleh berita tentang anak muda peneliti asal Indonesia yang menemukan (konsep dasar) teknologi 4G dimana konsep dasar yang diyakininya menyatakan bahwa teknik double FFT (Fast Fourier Transform) dalam transmisi akan menjadikan teknologi transmisi masa kini menjadi lebih stabil dan itu merupakan terobosan paling baru dan mendekati puncak dalam bidang teknologi komunikasi.
Cerita yang beredar tentangnya sangat menginspirasi. Dimulai dari tahun 2005 ketika ia diremehkan atas proposal penelitian yang ia ajukan untuk membuktikan teorinya saat diikutkan dalam International Conference, diragukan oleh Chairman; bahwa teknik double FFT ini 'useless' (tidak bisa digunakan). Padahal, gagasan untuk menggunakan double FFT itu justru demi 'membangunkan' kebanyakan ilmuwan bidang transmisi yang merasa cukup dengan keyakinan bahwa transmisi OFDM (wifi) yang hanya memakai satu FFT itu sudah luar biasa.

Komentar yang sama didapat saat kunjungan "visiting researcher" di Australia, bahwa teknik double FFT ini tidak ada gunanya karena teknik lain seperti "bit loading" menjadi tidak bisa diaplikasikan. Tapi ia kemudian "nekat" memepertahankan gagasannya dan mematenkan temuannya. Saat mematenkan, sensei (guru atau profesor) nya memberikannya semangat; "paten yang bagus adalah karya yang sederhana tapi hasilnya luar biasa dan tidak terpikirkan oleh orang sebelumnya".

Dan dengan bekal paten yang dianggap "useless" serta semangat pantang menyerah yang terus menerus ia pupuk itu, ia membawa karyanya ke Amerika dalam sebuah simposium tentang teknologi elektronik di mana ia mewakili Asia. Dan di situlah ia mendapatkan penghargaan dan pengakuan dari publik dunia yang sedang berkumpul di California, Amerika. Di Amerika-lah, publik menyambutnya dan memberikan panggung untuk membuktikan semua mimpinya.

Dialah Khoirul Anwar. Lebih tepatnya Doktor Khoirul Anwar. Doktor dan peneliti muda dari Indonesia yang pernah aktif di Nara Institute of Science and Technology (NAIST) lalu kemudian di JAIST yang mengkonsentrasikan diri dalam bidang penelitian transmitter inilah yang menemukan teknik transmisi dan teknologi Fourth Generation Long Term Evolution (4G LTE).

Teknik ini diadopsi menjadi standar internasional oleh The International Telecommunication Union (ITU-T) dengan nomor ITU-R S.1878 dan ITU-R S.2173 pada awal 2010. Keputusan untuk menjadikan teknik yang ditemukan Khoirul ini dikeluarkan, setelah Khoirul berhasil menjawab seluruh pertanyaan 'reviewer' yang datang terus menerus sejak dipatenkan tahun 2005. Bahkan, dengan berbagai pertanyaan tersebut, Khoirul akhirnya harus menurunkan rumus baru dan bukti baru kepada para 'reviewer' paten.

DR. Khoirul Anwar pantas berbangga. Karena karyanya mendunia. Dipakai oleh hampir seluruh manusia di muka bumi yang menggunakan teknologi komunikasi pintar terbaru. Dan DR. Khoirul Anwar pantas dibanggakan dan mendapatkan tempat terhormat di tanah air kita.

Karena berkatnya lah, Indonesia mampu menegakkan wajah dengan gagah. Seolah-olah sedang berkata; bahwa bangsa kami punya putra-putri yang memiliki kecerdasan dan kemampuan yang setara dengan bangsa-bangsa penemu lainnya di dunia. Mampu berkontribusi bagi peradaban manusia di dunia.

Pengakuan dunia datang silih berganti. Mulai dari penghargaan Travel Grant Award, Computer and Communications Conference Conference Award dari Massachusets Institute of Technology (MIT), tahun 2004, disusul penghargaan The Best Student Paper oleh Institute of Electrical and Electronic Engineering (IEEE) di bidang Radio and Wireless Symposium 2006 (RWS2006) di California, pada Januari 2006.

Bertahun kemudian, datang penghargaan yang lain, berupa Best Paper untuk kategori Young Scientistdi tengah acara Institute of Electrical and Electronics Engineers Vehicular Technology Conference(IEEE VTC) 2010-Spring yang digelar 16-19 Mei 2010, di Taiwan. Dan tak lupa, dapukan terbaru yang datang dari Indonesia; Penghargaan Achmad Bakrie XII pada tahun 2014 yang lalu.

Kebanggaan KAMMI

Keberhasilan dan kebanggaan DR. Khoirul Anwar tentu juga telah mengalirkan kebanggaan tersendiri bagi aktivis KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) dan para alumninya. Karena Khoirul Anwar memang aktivis KAMMI tulen. Pada saat ia mengambil jenjang S1 di Institut Teknologi Bandung (ITB) itulah Khoirul Anwar mengenal KAMMI dan terlibat di dalamnya.

Khoirul muda adalah aktivis KAMMI Komisariat ITB. Kemudian, saat mengambil studi Master dan Doktor di Jepang, Khoirul diberi amanah untuk menjadi Ketua KAMMI Perwakilan Jepang. Istri Khoirul, Teh Sri Yayu Indriyani -sesama Alumni ITB- juga aktivis KAMMI. Saat masih kuliah di ITB, Teh Yayu pernah menjadi Staf Pengurus KAMMI Daerah Bandung Bidang Pengembangan Organisasi.

Selain kepada Khoirul, kita juga pantas menyematkan kebanggaan kita pada beberapa senior KAMMI. Ada yang berkontribusi lewat dunia cendekia dan mengembangkan bidang ekonomi syari'ah dan hukum tatanegara. Ada juga yang menggeluti dunia politik dan memberikan sumbangsih besar tentang posisi kelembagaan legislatif dalam penyelenggaraan negara. Semua mantan aktivis KAMMI itu, dalam usia yang masih muda -sekira 40 tahunan- telah ikut berkontribusi bagi Indonesia dan dunia.

Tapi ada uniknya. Sebagian alumni KAMMI yang 'expert' dalam sebuah ilmu dan terlibat secara tematik dalam bidang tertentu, justru tidak banyak berbicara dalam ruang diskusi media sosial. Apalagi di ruang publik. Mereka hanya sesekali berkomentar tentang sesuatu. Itupun kadang, berdasar pada tema yang bertalian dengan bidang yang digeluti. Seolah-olah mereka ingin mengajarkan untuk "sepi ing pamrih, rame ing gawe"; senantiasa mempersembahkan karya terbaik, tanpa pamrih dan keinginan terselubung.

Ini sekaligus kebanggaan tapi suatu saat nanti harus menjadi otokritik tersendiri bagi alumni KAMMI. Bahwa kadang, sesekali kita juga mesti berbicara di depan khalayak tentang gagasan, mimpi, narasi dan karya kita, sebagai bentuk kredibilitas intelektual dan aktivisme kita; sebagai bentuk pertanggungan jawab kita pada sejarah dan masa depan; sebagai bentuk paling sederhana bahwa kita telah menunjukkan apa yang kita impikan tentang perjalanan umat manusia.

Di luar perbincangan kita soal "sudah saatnya kita tampil berbicara di depan khalayak", mungkin kita juga perlu menengok jauh ke dalam diri kita, berkaca dengan penuh kesadaran; baik sebagai pribadi, maupun sebagai sebuah komunitas aktivis pemuda muslim Indonesia. Tentang kompetensi yang kita yakini lalu kita rumuskan bersama. Perihal 6 (enam) pengetahuan, kemampuan dan perilaku yang harus kita rajut dalam diri sebagai aktivis pemuda Islam, agar sematan "Muslim Negarawan" layak tersandingkan di pundak kita semua.

Kompetensi-kompetensi itu adalah; 1) pengetahuan keislaman yang utuh; 2) kredibilitas moral yang senantiasa ajeg dalam jiwa; 3) wawasan ke-Indonesiaan yang maujud dalam laku nasionalisme kita; 4) kepakaran dan profesionalisme sebagai buah dari kegelisahan dan keinginan kita untuk menyelesaikan masalah bangsa dan umat manusia; 5) kepemimpinan yang mampu menggerakkan dan menginspirasi perubahan; dan 6) kemampuan dalam membangun jejaring dan merekatkan jiwa seluruh elemen bangsa.

Kompetensi kritis itu tak berdiri sendiri. Ia kesatuan yang utuh dan melengkapu satu dengan lainnya. Tak akan lengkap sematan "Muslim Negarawan", jika salah satu tertinggal ketika kita sedang dalam proses memadu-sulamkan.

Otokritik KAMMI

Lalu, adakah asbab yang menjadikan enam (6) kompetensi kritis itu tak lengkap kita rangkai? Kami mencoba mencatat secara ringkas beberapa sebab-sebabnya;

Pertama; kita tidak tekun mendaras sumber-sumber pengetahuan Islam. Kedua; kita tak mampu menghubungkan narasi langit dengan keragaman aktivitas manusia. Ketiga; tidak utuh melihat Indonesia sebagai sebuah lanskap pelangi yang memerlukan kebesaran jiwa untuk mengerti dan dengan sadar nan bahagia ingin terus ikut mewarnai.

Keempat; kita tak selesai mendaras pengetahuan tematik kita dan lebih suka terlibat dalam berbagai bidang yang tak yakin kita kuasai secara utuh. Kelima; kurangnya pengetahuan kita akan orang lain yang berbeda beserta jiwa dan perasaannya yang asing, hingga kadang tak mampu kita selami. Keenam; kita terlalu asyik dengan dunia kita yang kita khayali lengkap tapi ternyata belum menjad jejaring yang lengkap.

Berkaca pada permasalahan mendasar kita yang menjadi batu sandungan untuk menuju "Muslim Negarawan", maka ada baiknya kita menyelami sebagian cerita Khoirul Anwar di berbagai media, bahwa ia ternyata tekun belajar tentang keislaman sejak masa kuliah; ajeg menjaga moralnya dalam pengembaraannya; mencintai Indonesia dan selalu penuh hasrat untuk berbagi ilmu dengan anak-bangsa;

Ia juga mumpuni dan mumtaz dalam pengetahuan yang ia pelajari; mampu menginspirasi anak-anak muda Indonesia dan dunia untuk tekun menuntut ilmu dan mengembangkan ilmu pengetahuan baru; serta berhasil meyakinkan para peneliti dunia dari luar untuk ikut dalam proyek besar mencari sarana baru komunikasi manusia yang kini mendekati puncaknya.

Sadar atau tidak, Khoirul Anwar ternyata sedang melengkapi kompetensi kritisnya menuju cita "Muslim Negarawan" yang ideal seperti halnya cita masing-masing kita. Walaupun masih ada kekurangan di sana-sini dan masih terus berproses tanpa pernah henti, Khoirul Anwar telah membuktikan bahwa ia ingin menjadi "Muslim Negarawan" yang berkontribusi bagi peradaban dunia.

Lalu apa dan sudah sampai dimanakah bentuk pembuktian kita?

Selasa, 8 Maret 2016

*sebagian cerita berdasarkan tanya jawab dengan narasumber (DR. Khoirul). Ucapan terimakasih kepada semua pihak yang ikut terlibat menjadi kontributor cerita.

Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.